LPK Politeknik Sukabumi Dibuka, Ayep Zaki Bidik 10 Ribu PMI Bekerja ke Luar Negeri
elmitra news – Pemerintah Kota Sukabumi terus mendorong penyerapan tenaga kerja melalui program pelatihan dan penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Upaya tersebut ditandai dengan dibukanya kelas pelatihan bahasa dan keterampilan di LPK Politeknik Sukabumi.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki di dampingi Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan, program tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah daerah dalam mengurangi angka pengangguran sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat, khususnya melalui penempatan pekerja migran terampil.
“Alhamdulillah hari ini pembukaan LPK Politeknik Sukabumi. Dibuka kelas pelatihan bahasa dan skill atau keterampilan untuk mendapatkan sertifikat bahasa dan sertifikat skill. Ini untuk menjadi pekerja migran Indonesia,” ujar Ayep Zaki saat di wawancara oleh Tim liputan elmitra ssetelah kegiatan membuka Grand Opening LPK Politeknik Sukabumi, Senin (24/08/2026). Kegiatan berlangsung di LPK Politeknik Sukabumi dan dihadiri pimpinan yayasan serta para peserta pelatihan.
Pada tahap awal, terdapat 24 peserta yang mengikuti pelatihan. Sementara kebutuhan pelatihan ditargetkan mencapai sekitar 60 peserta setiap bulan, atau minimal dua kelas dengan kapasitas sekitar 30 orang per kelas.


Menurut Ayep, peserta tidak hanya berasal dari Kota Sukabumi. Program tersebut juga terbuka bagi masyarakat dari Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Bogor, Serang, Cirebon hingga Bekasi.
Untuk mendukung penempatan tenaga kerja, LPK Politeknik Sukabumi juga menggandeng perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia serta mitra dari Jepang. Para peserta akan dibekali kemampuan bahasa dan keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja, terutama untuk peluang kerja di Jepang dan sejumlah negara lainnya.
Dari sisi pembiayaan, biaya program disebut mencapai sekitar Rp65 juta per peserta. Namun, peserta cukup menyiapkan sekitar Rp5 juta sebagai biaya awal. Sementara sekitar Rp60 juta dapat dibiayai melalui skema Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari perbankan yang diarahkan oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Ayep menjelaskan, pembiayaan tersebut memiliki bunga sekitar 6 persen per tahun. Bagi calon pekerja yang mengalami kendala dalam persyaratan perbankan, seperti persoalan BI Checking, pihak politeknik juga menyiapkan alternatif pembiayaan melalui koperasi.
“Pembayaran KUR maupun koperasi nanti dicicil setelah mereka bekerja di negara tujuan, paling tidak satu tahun sampai satu setengah tahun,” katanya.
Selain pembiayaan, peserta juga mendapatkan fasilitas makan selama mengikuti pelatihan. Peserta yang tinggal di mess juga dikenakan biaya yang relatif terjangkau, sekitar Rp200 ribu per bulan.


Ayep menegaskan, Pemkot Sukabumi memiliki target besar dalam program penempatan pekerja migran. Ia menargetkan sebanyak 10.000 pekerja migran asal Kota Sukabumi dapat bekerja di luar negeri.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja Kota Sukabumi, saat ini sudah sekitar 530 pekerja migran yang diberangkatkan.
Menurutnya, pekerja migran yang memiliki keterampilan dan sertifikasi akan mendapatkan perlindungan serta pemantauan karena proses keberangkatannya dilakukan secara resmi dan legal.
“Ini sah dan legal, dan pekerjanya skill. Mereka mempunyai sertifikasi. Berbeda dengan pekerja nonformal yang tidak mempunyai skill. Kalau ini pekerja terampil,” ungkapnya.
Ayep menilai keberadaan pekerja migran juga memiliki potensi besar terhadap perekonomian masyarakat. Jika target 10.000 pekerja tercapai dan masing-masing memperoleh penghasilan sekitar Rp25 juta per bulan, maka potensi perputaran ekonomi dapat mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun.
Ia menegaskan, uang tersebut tidak secara langsung masuk ke kas Pemerintah Kota Sukabumi, melainkan kepada masyarakat melalui pendapatan para pekerja migran.
“Uangnya masuk ke masyarakat. Masyarakat bisa membangun rumah, membuka usaha, UMKM, membiayai sekolah dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Untuk mencapai target tersebut, sosialisasi juga terus dilakukan di berbagai kelurahan. Salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan bimbingan teknis bagi RT dan RW adalah mengenai perekrutan Calon Pekerja Migran Indonesia atau CPMI, terutama masyarakat berusia 35 tahun ke bawah.
Ayep berharap seluruh pihak dapat berkolaborasi dalam membuka akses kerja bagi masyarakat.
“Program Pemerintah Kota Sukabumi fokus untuk menyelesaikan pengangguran di Kota Sukabumi dan juga daerah-daerah tetangga. Mari kita bersama-sama berkolaborasi,” pungkasnya
Reporter : Nandre



